T&T 4: Sejumlah Tips Cepat Ubuntu

Mungkin topik kali ini sudah ‘basbang’ bagi sebagian pengguna Ubuntu di Indonesia. Walau pun demikian saya akan coba kembali mengangkatnya dengan harapan dapat membantu pengguna pemula Ubuntu lainnya seperti saya ini. 🙂

Tips 1: Ingin membuat berkas /etc/apt/sources.list secara cepat tanpa harus menginput satu per satu server untuk aplikasi apt anda secara manual? Cobalah kunjungi situs web Ubuntu sources.list generator dengan mengklik link ini. Cukup copy-paste output yang diberikan ke dalam berkas yang dimaksud dengan editor teks favorit anda. Terus jalankan perintah: # sudo apt-get update untuk mengaktifkan daftar server yang ada.

Tips 2: Kunjungilah situs ini, Seveas’ Ubuntu Packages, jika anda ingin memperoleh sejumlah solusi cepat untuk sistem Ubuntu anda. Di sana telah tersedia beberapa paket yang mungkin menarik untuk dicoba. Tentunya masih banyak lagi situs-situs lain yang menyediakan hal yang serupa. Secara pribadi saya sendiri sangat terbantu dengan adanya situs Seveas ini. Contoh sederhana adalah dengan menggunakan perintah berikut:

# sudo apt-get install ubuntu-lamp < — untuk menginstal server LAMP komplit secara cepat
# sudo apt-get install ubuntu-multimedia-gnome < — untuk menginstal aplikasi multimedia komplit di Gnome

dan seterusnya. Silakan dieksplorasi sendiri.

Semoga bermanfaat.

T&T 3: Cara Cepat Menginstalasi LTSP dengan Ubuntu

Tertarik dengan sesuatu yang pernah ditulis oleh Mas Harry Sufehmi beberapa waktu lalu di blog pribadinya, saya ingin mengungkit kembali materi tentang LTSP. Pada kesempatan ini saya ingin membagi cara tercepat menginstalasi LTSP 5 pada Ubuntu yang saya peroleh melalui halaman ini. Karena saya menggunakan Ubuntu 6.06 LTS, maka metode yang diberikan di sini dapat diterapkan di versi Ubuntu yang sama. Selain itu, saya juga pernah mencoba menginstal LTSP 5 di Ubuntu 6.10 dengan metode yang sama, dan berhasil. Jadi saya rasa cara ini sifatnya universal untuk semua versi Ubuntu. Untuk pastinya silakan dicoba sendiri ya… 🙂

Sebelum memulai instalasi pastikan komputer/laptop anda memiliki dua kartu jaringan (NIC = Network Interface Card). Satu diset statis ke 192.168.0.1, ini yang akan kita gunakan untuk berhubungan dengan komputer klien, dan satunya lagi kita gunakan jika kita ingin mengakses internet yang dapat dibagi juga kepada klien.
Setelah itu, jalankan perintah ini di konsol di mana kita akan mengambil paket-paket yang dibutuhkan dari internet:

sudo apt-get install ltsp-server-standalone openssh-server

Kemudian bangun lingkungan LTSP untuk klien anda dengan perintah ini:

sudo ltsp-build-client

Tergantung pada kecepatan koneksi internet yang anda miliki, proses instalasi server LTSP dapat berlangsung cepat atau lambat. 🙂 Jika semua proses sudah selesai dilakukan, silakan ikuti proses seperti yang ditulis oleh Mas Harry di blog-nya, di sini. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah langkah 13 sampai dengan langkah 15. Selesai!

Selamat mencoba.

Bergabung dengan Planet Ubuntu Indonesia

Hari ini saya bergabung dengan Planet Ubuntu Indonesia sebagai tanda partisipasi saya di Ubuntu. Terima kasih kepada rekan-rekan Ubuntu Indonesia yang telah bersedia menerima saya. Walaupun saya baru beberapa hari menggunakan Ubuntu, tapi saya merasa sudah familiar dengan distro satu ini.

Sekedar perbandingan saja, setelah googling sana sini sepertinya saya belum menemukan tempat seperti Planet Ubuntu untuk komunitas Slackware Indonesia. Mungkin ada yang ingin mengambil inisiatif ke arah ini? Tentunya ini akan sangat membantu perkembangan distro tersebut di Indonesia. Karena yang saya tahu hanya segelintir orang Indonesia yang masih bertahan menggunakan Slackware. 🙂

Ubuntu Muslim Edition

Still in the spirit of Ubuntu, it seems that some of our Muslim linux developer fellows have joined their force to develop the Ubuntu Muslim Edition. Here is its description quoted from DistroWatch.com:

The project is an attempt to deliver a complete Linux-based operating system supplemented by Islam study software (in Arabic and English) and by an innovative system tray utility that alerts the user to prayer times and automatically plays the appropriate prayer (the prayers are in the free Ogg-Vorbis format).

It is of cource very nice to see a similar development as we have seen it on Ubuntu Christian Edition. Let’s hope the Ubuntu Muslim Edition will catch up everything and become a great resource for all people who would like to learn or read the Quran. Interestingly they use the Quran component I developed before for PostNuke, Mambo and XOOPS on their website, which is now already ported to Joomla! to suit the CMS engine used. That’s great! Keep up the good work. 🙂

Mencoba Ubuntu

Sebenarnya saya sudah lama ingin mencoba distro Linux lainnya selain Slackware atau SLAMPP, distro yang saya buat untuk konsumsi server rumahan, untuk pemakaian desktop sehari-hari, tapi karena satu dan lain hal selalu tidak kesampaian. Pernah sempat tertarik dengan Mandriva, hanya saja saya merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang ada di sana. Hingga pada akhirnya saya mencoba Ubuntu.

Ubuntu

Saya mengenal Ubuntu sudah cukup lama. Mulai dari pertama kali dikeluarkan sampai sekarang, saya terus memantau perkembangan Ubuntu. Bisa dikatakan Mark Shuttleworth dan kawan-kawan telah berhasil mengemas Linux menjadi sebuah sistem operasi yang menarik dan mudah digunakan. Bahkan sekarang dengan berbagai varian yang ditawarkan membuat pengguna semakin bebas memilih. Terus terang saya tidak mempromosikan Ubuntu dengan menulis posting ini. Bagi saya semua distro Linux adalah sama dan patut diberikan perhatian yang serupa. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi pemakainya saja.

Impresi pertamalah yang membuat saya tertarik untuk mencoba Ubuntu. FYI, saya menggunakan Ubuntu 6.06 LTS. Sewaktu diinstal, Ubuntu tidak memberikan kesalahan-kesalahan yang berarti pada komputer yang saya pakai. Bahkan perangkat koneksi nirkabel yang kami miliki di Brainmatics juga dapat terdeteksi dengan langsung dan bekerja dengan baik. Ada anekdot yang berlaku di rekan-rekan Brainmatics, jika ada distro Linux yang bisa menyambungkan kami langsung (dibaca: tanpa perlu konfigurasi lebih jauh dengan asumsi yang menggunakan Linux adalah pengguna sangat awam) ke internet melalui perangkat nirkabel yang ada, maka distro itulah yang akan dipakai. Kenapa bisa seperti itu? Karena dari sekian banyak distro yang pernah kami coba, baru ada dua distro yang dapat mengenal Linksys WMP54G 2.0 PCI Adapter yang kami pakai langsung sewaktu di-boot untuk pertama kalinya. Distro yang dimaksud adalah Mandriva 2006/2007 dan Ubuntu 6.06 LTS. Distro Linux lainnya harus dioprek terlebih dahulu supaya koneksi internetnya bisa jalan. Ya begitulah yang terjadi di kantor kami. 😀

Tentang aplikasi-aplikasi yang terdapat di dalam Ubuntu, saya tidak dapat memberikan komentar banyak selain bagus. Entah karena merasa tidak ada yang baru atau apa, yang jelas saya tidak terlalu merasakan perbedaan yang berarti antara Ubuntu dengan Slackware, Mandriva, Fedora, atau distro-distro lainnya yang pernah saya coba. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Yang saya rasakan pada Ubuntu hanyalah kenyamanan dan kemudahan. Atas dasar itulah, saya akan mencoba Ubuntu sebagai desktop harian saya mulai hari ini. (Mudah-mudahan saja saya tidak lekas bosan 😛 )

Oh ya sekedar informasi singkat, SLAMPP akan tetap dikembangkan. Jadi pengguna SLAMPP jangan khawatir distro tersebut akan hilang dari peredaran. Saat ini saya masih disibukkan dengan berbagai hal, sehingga belum dapat memberikan perhatian penuh pada pengembangan SLAMPP. Doakan saja sebelum pertengahan tahun ini versi terbaru SLAMPP sudah keluar. Terima kasih atas perhatian dan kesabarannya.