Coin a Chance: Sebuah Gerakan Mikrososial

Beberapa waktu lalu saya pernah berujar kepada sang istri, dalam perjalanan kami menuju rumah dengan menggunakan bus kota, bahwa saya akan memulai sebuah gerakan baru yang saya namakan “Gerakan Gopek“. Hal ini diilhami dari hal yang sangat sederhana yang saya lakoni setiap hari, yakni adanya uang kembalian Rp 500,- atau gopek dari tarif bus Kopaja/Metro Mini yang Rp 2.500,- itu. Bagi yang sering naik angkutan umum, tentunya sudah hafal berapa tarif yang berlaku saat ini. πŸ™‚ Turunnya harga BBM pertengahan Desember lalu rupanya tidak berpengaruh banyak terhadap tarif yang sudah telanjur dinaikkan sebelumnya. Satu hal yang menurut saya tidak perlu terjadi jika pemerintah tidak tergoda untuk buru-buru menaikkan harga BBM, di saat harga minyak di pasaran dunia sedang membumbung tinggi. Seperti yang sudah dipahami bersama, akibat dari kenaikkan harga BBM November lalu tidak dapat dipulihkan begitu saja setelah harga BBM baru diterapkan. Semuanya membutuhkan waktu untuk mencapai titik keseimbangan baru. Imbas dari kebijaksanaan tersebut kembali lagi dirasakan masyarakat umum, terutama yang berekonomi lemah.

Nah kembali pada cerita tadi, pada awalnya uang kembalian tersebut sering saya simpan untuk saya berikan kembali kepada pengamen jalanan, atau untuk membeli permen/kacang atom ketika mulut mulai terasa asem, pengen kunyah-kunyah sesuatu, sebagai penghibur kebosanan di jalan yang macet. Kadangkala jumlah koin gopek yang saya peroleh semakin banyak, sehingga terasa berat di kantong. Mau ditabung di bank tentunya akan merepotkan mbak/mas teller bank, karena mereka harus menghitung recehan satu per satu. Itu pun kalau diterima hehehe… Mau tukaran koin sama kenek/kondektur bus, saya juga sering lupa. Singkat cerita, dari sinilah kemudian muncul ide untuk mengumpulkan semua recehan, tidak harus gopek lho, untuk kemudian disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Mengingat nominalnya yang sangat kecil, tak jarang kita tidak mengambil kembalian dalam bentuk recehan. Tapi perlu diingat, jika recehan tersebut secara sadar dikumpulkan, saya yakin jumlahnya dapat membantu orang lain.

Ujaran saya tentang Gerakan Gopek sebenarnya bukanlah hal yang orisinal, karena gerakan serupa sudah banyak dilakukan oleh sejumlah pihak. Contoh paling dekat adalah ketika berbelanja di supermarket. Sering kali total belanja kita dibulatkan oleh pihak supermarket, dengan alih kelebihannya akan didonasikan lewat organisasi amal yang menjalin kerjasama dengan supermarket tersebut. Secara langsung dan cepat, kita sudah beramal, walau mungkin sebagian ada yang merasa tidak ikhlas. πŸ˜‰

Di Amerika Serikat ada sebuah gerakan sosial yang dinamakan, The One Dollar Give, yang ternyata cukup populer dan memiliki jaringan organisasi sosial di seluruh dunia. Lalu, bagaimana dengan kita di Indonesia, apakah ada gerakan yang sama dengan itu? Ternyata ada! Dan, rupanya saya bukanlah satu-satunya orang yang memiliki ide tersebut. Walhasil, atas dasar solidaritas, dengan ini inisiatif saya untuk mencanangkan Gerakan Gopek secara nasional dihentikan. πŸ˜›

Ini dia yang dimaksud, Coin A Chance!

Coin A Chance!Saya sendiri baru tahu hari ini, setelah blogwalking di sejumlah blog teman. Metodenya persis sama seperti yang saya pikirkan. Bedanya, di gerakan tersebut si pengkoleksi (coiners), atas dasar kesepakatan bersama, mendonasikan sendiri secara langsung kepada yang membutuhkan. Sementara saya lebih tertarik pada sistem yang dipakai oleh The One Dollar Give Project. Tapi terlepas dari itu, apa pun sistemnya bagi saya tidak masalah, asalkan tepat sasaran, transparan, serta bisa dipertanggungjawabkan.

Ayo teman-teman, tunggu apa lagi. Mari kumpulkan semua recehan yang ada, di saku celana/baju, dompet, tas, dsb dan mulailah gerakan mikrososial ini di lingkungan masing-masing (rumah dan kantor). Bersama kita peduli sesama.

Informasi lebih lanjut dapat diperoleh di situs mereka, Coin A Chance!

Selamat kepada para penggagas gerakan tersebut! Saya dukung gerakan anda!

Advertisements

5 thoughts on “Coin a Chance: Sebuah Gerakan Mikrososial

  1. dulu di jabar ada gerakan dari gubernur gitu ya? lupa… namanya rereongan sarupi, patungan seratus perak buat nolong fakir miskin, yang entah gmana nasibnya skarang..

  2. Terimakasih ! idenya sangat menarik & brilian !! πŸ˜€

    Saya akan coba mulai dari rumah sendiri — taruh sebuah toples untuk coin-coin kami.
    Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

    Mudah2an kemudian bisa kami sebarkan juga ke tempat2 lainnya.

    Thanks again !

  3. dulu sebelum menggunakan motor sebagai kendaraan aktifitas sehari-hari, gerakan tersebut sudah lama saya lakukan. karena memang setiap hari harus menggunakan angkutan umum untuk beraktifitas. Sejak ada kendaraan gerakan tsb sudah mulai hilang 😦 padahal itu merupakan amal kontinuitas yang bisa kita lakukan.

    ibarat jargon seorang ustadz, Mulai yang terkecil, Mulai dari Diri Sendiri dan Mulai Sekarang Juga. πŸ™‚

Comments are closed.