Refleksi Akhir Tahun

Tidak terasa tahun 2008 ini akan segera berakhir. Dalam hitungan hari yang tidak genap sebulan, tahun baru pun kan menjelang. Siapkah diri ini menyongsong tahun 2009 yang akan datang? Pertanyaan ini senantiasa mengusik pikiran saya beberapa hari belakangan ini. Entah kenapa ada perasaan sedih dan galau di hati karena waktu yang cepat berlalu meninggalkan banyak hal yang mestinya dapat direalisasikan tahun ini. Tapi perasaan negatif ini kemudian segera sirna setiap saat saya mengingat bahwa saya adalah salah seorang yang paling beruntung di dunia ini. Betapa tidak, masih banyak saudara-saudara kita yang nasibnya tidak sebaik kita pada tahun ini. Menurut saya, rasa syukur yang mendalam, terlepas dari semua hal yang membebani hidup selama ini, merupakan salah satu intisari dari hidup. Toh, rasa cukup di dalam diri manusia memang tidak pernah ada. (Ataukah ada?)

Refleksi ini adalah kilas balik kisah dan peristiwa yang terjadi tidak hanya pada tahun ini tapi juga dalam hidup saya yang baru seumur jagung. Di usia saya yang akan menginjak angka 28 dua hari lagi, saya merasa kehadiran saya di alam ini telah melebihi angka tersebut. Secara psikologis, tentu bukan hal yang luar biasa jika ada seseorang yang merasa dirinya seperti itu. Secara riil, banyak teman-teman saya yang terkejut dan tidak menyangka kalau usia saya masih di bawah angka 30. Apakah ini satu hal yang patut disyukuri atau tidak, saya tidak tahu. Tapi yang jelas, setiap tahun pasti ada pelajaran dan pengalaman hidup baru yang saya peroleh yang membuat saya semakin arif dan bijak menyikapi kehidupan. Seringkali saya suka merenung dan bermuhasabah dalam setiap kejadian, apakah itu merupakan pelajaran, peringatan, hadiah, cobaan atau bahkan azab dari Yang Maha Kuasa. Wallahu’alam.

Tahun 2008 merupakan tahun penuh kesabaran dan keprihatinan bagi saya dan keluarga. Allah Yang Maha Besar sepertinya memiliki rencana tersendiri yang kadang sulit saya cerna. Tapi dengan hikmahNya pula rencana-rencana tersebut mulai membuka tabirnya satu per satu dan sekarang dapat saya pahami. Tidak semua yang terjadi itu jelek atau tidak menyenangkan, karena ada juga yang menyenangkan dan penuh kebaikan.

Mari kita mulai dengan peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan terlebih dahulu.🙂

Di awal tahun ini, saya diberi cobaan penyakit yang hampir melumpuhkan aktivitas saya tiga bulan lamanya. Sebelum itu, istri dan adik ipar saya harus pula dirawat di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Belum lagi masalah dalam pekerjaan yang seakan-akan tidak pernah ada habisnya. Pernah bertemu dan bekerja dengan orang-orang yang tidak tepat dan dalam proyek yang tidak jelas. Sering menghadapi manusia dengan egoisme pribadi yang berlebihan, kerakusan manusia terhadap materi, pengkhianatan dan perpecahan, iri hati dan dengki serta sejumlah intrik negatif lainnya. Capek sekali rasanya hati ini jika harus mengingat semua hal yang terjadi. Walaupun demikian, saya banyak belajar tentang manusia dan dunia kerja di Indonesia. Berkaitan dengan ini, saya ingin mengutip ucapan seorang teman WN Belanda yang saat ini bekerja di Balikpapan. Ia bertutur tentang apa yang dirasakannya kurang dari bangsa kita (dengan tidak bermaksud mengeneralisir tentunya), “Ik mis de eerlijkheid van de mens”. (Arti: “Saya merindukan kejujuran manusia”)

Nah, peristiwa-peristiwa yang menyenangkan tentunya ada. Ini yang membuat saya selalu terhibur jika sedang bersedih. Dari sekian banyak yang terjadi, satu yang paling membahagiakan, yakni kehamilan istri saya untuk yang pertama kalinya. Setelah menunggu hampir dua tahun lamanya, akhirnya Allah memberikan kepercayaanNya juga kepada kami. Alhamdulillah. Dengan usia kehamilan yang menginjak 8 bulan saat ini, insya Allah di awal tahun depan ada tangisan bayi yang akan meramaikan suasana rumah. Mohon doanya teman-teman semoga semuanya berjalan dengan lancar. Sekarang saya dalam status siaga dan kami juga sibuk mengurus semua keperluan bayi. Masih dalam tahun ini juga, saya dan istri berhasil membawa adik ipar saya lulus kuliah menjadi seorang sarjana. Praktis setelah istri saya ditinggalkan ayahnya empat tahun yang lalu, hampir semua kebutuhan hidup kami yang menanggung. Dengan kelulusan ini, paling tidak berkurang satu tanggung jawab kami.

Di bidang pekerjaan, saya banyak belajar dan menimba pengalaman tentang bidang yang baru saya geluti dalam dua tahun terakhir, Measurement While Drilling/Logging While Drilling (MWD/LWD). Dari sejumlah proyek Directional Drilling yang saya lakukan bersama teman-teman dalam tahun ini, saya mengenal lebih jauh seluk beluk bisnis dunia perminyakan dan panas bumi Indonesia dan merasakan keras dan panasnya dunia lapangan. Saya bertemu dan bekerja sama dengan sejumlah key persons, menyusun rencana kerja operasional dan budget, membuat rates of services untuk DD/MWD, mengikuti tender, mengorganisir drilling tools, mengenal dan mempelajari teknologi baru untuk Directional Drilling/MWD. Saya beruntung bisa belajar langsung semua hal ini dari teman-teman DD/MWD/LWD eks-Schlumberger, Baker, Halliburton dan Weatherford/Precision. Oh ya, satu hal yang ingin saya dan teman-teman wujudkan tahun depan insya Allah, yang tertunda tahun ini, adalah mendirikan dan menjalankan local company yang bergerak di bidang DD/MWD services. Kendala utama yang dihadapi adalah permodalan. Mudah-mudahan ada investor yang tertarik menanam modalnya di bisnis ini. Sekedar gambaran, sekarang perusahaan-perusahaan minyak nasional/internasional sedang gencarnya mencari cadangan minyak baru. Termasuk mengolah kembali sumur-sumur tua agar bisa berproduksi kembali. Untuk membantu proses pencarian dan pengeboran tersebut, mau tidak mau mereka membutuhkan jasa DD/MWD. Selain cepat dan efisien, yang jelas lebih ekonomis. Bahkan untuk pengeboran vertikal sekalipun, adanya DD/MWD akan menghemat biaya banyak dan sekaligus menerapkan well management yang baik. Saat ini memang sudah ada dua perusahaan nasional yang aktif dan cukup berkembang. Saya sendiri pernah terlibat langsung membangun dari awal pada salah satu perusahaan tersebut. Saya berpendapat jika banyak perusahaan nasional yang berdiri, maka akan timbul semangat berkompetisi. Jika kinerjanya baik dan berprestasi, bukanlah hal yang mustahil akan ada pergeseran pasar yang selama ini dikuasai oleh pemain-pemain lama dan besar. Akan ada pembagian kue, bisa dikatakan begitu. Selain itu dan yang tidak kalah pentingnya adalah membuka kesempatan kerja bagi teman-teman.

Lalu, apa yang terjadi dengan keahlian saya di bidang IT/FOSS? Akankan saya tinggalkan? Tentu saja tidak. Dalam melaksanakan pekerjaan DD/MWD, keahlian IT sangatlah diperlukan. Karena peralatan yang digunakan sudah tidak banyak lagi dijalankan secara manual, melainkan membutuhkan bantuan komputer. Begitu pula dengan jaringan, hampir semua alat terkoneksi satu sama lainnya. Jika ada satu alat yang gagal, maka akan mempengaruhi kinerja yang lainnya. Jadi keberadaan dan peranan IT di dunia minyak cukuplah vital dan signifikan. Perlu diketahui, saya terjun ke dunia DD/MWD melalui IT. Sampai saat ini saya masih sering menerima order untuk mengajar, konsultasi atau mengerjakan proyek IT. Seringkali saya mengkombinasi kedua profesi ini guna mencari sesuap nasi untuk keluarga.

Siapa sangka seorang yang belajar Ekonomi, menekuni profesi IT dengan menggalakkan FOSS, akhirnya menggeluti satu bidang spesialis minyak? Saya sungguh beruntung melalui jalan hidup yang telah lalu, alhamdulillah saya pernah menginjakkan kaki di benua Asia (Singapura, Malaysia, Brunei, Hong Kong, Taiwan, UAE, Arab Saudi, Bahrain), Eropa (Belanda, Belgia, Jerman, Perancis, Swiss, Monaco, Italia, Luxemburg, Liechtenstein), Amerika (Amerika Serikat). Tinggal benua Australasia/Oceania dan Afrika yang belum. Untuk Indonesia, wilayah Timur yang belum terjangkau (Maluku, Papua, Nusa Tenggara). Insya Allah suatu saat saya bisa diberikan kesempatan berkeliling Indonesia dan dunia lagi.

Secara umum dari refleksi ini, banyak target yang belum dapat terpenuhi dalam tahun ini. Apa boleh buat,  semua target tersebut akan saya masukkan ke dalam resolusi tahun 2009. Saya harus memperbaiki dan menata kembali visi, perencanaan, strategi dan implementasi ke depan. Saya harus bisa lebih mandiri, mengatasi semua kekurangan dengan bijak, lebih sabar dan mampu mengontrol diri, sayang dan tanggung jawab pada keluarga, bekerja dan beribadah lebih baik.

Harapan saya jauh ke depan, suatu saat nanti saya bisa menceritakan sekelumit kisah hidup ini kepada anak cucu saya dan berpesan kepada mereka melalui kutipan seorang teman, “Tuhan kita Maha Kuasa dan Maha Pengasih. Selama permintaan kita baik di mata Tuhan dan sesuai KehendakNya, dan kita memintanya dengan bersungguh-sungguh dan dengan iman, maka Ia pasti memberi.” (Roy Sembel)

3 thoughts on “Refleksi Akhir Tahun

  1. Yang mungkin perlu di-refleksi-kan juga pada akhir tahun ini: mengapa masih menggunakan penanggalan Gregorian untuk mengatur hidup (termasuk dalam hal ini sasaran tahunan, agenda bulanan / pekanan, peringatan ulang tahun), kenapa bukan penanggalan Hijrah Nabi.
    Sebagai orang IT, secara teknis tidak ada kendala untuk hijrah ke penanggalan hijrah secara pribadi, bersama dengan penanggalan “Anno Domini” / “Year of Our Lord”.
    Siapa tahu dengan hijrah, berkah hidup menjadi berlipat ganda.

Comments are closed.