63 tahun

Dua hari lagi tepat 63 tahun sudah kita merdeka. Waktu yang cukup panjang bagi perjalanan sebuah negara seperti Indonesia. Sebuah titik telah ditetapkan sebagai perwujudan terlepasnya kita dari belenggu penjajahan kolonialis. Titik yang setiap tahunnya kita rayakan dengan penuh suka cita dan kemeriahan. Namun, terkadang kita sering lupa, kita merdeka karena siapa? Lalu penghargaan apa yang telah kita berikan kepada mereka? Akankah kisah para pejuang seperti Bapak Ilyas Karim terus menghiasi gemerlapnya perayaan kemerdekaan Republik ini setiap tahunnya?

Bangsa besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa-jasa para pahlawannya, begitu kalimat heroik yang selalu kita dengar. Kalimat tersebut rupanya tidak memiliki arti lagi di dunia yang semakin inividualis dan materialis ini. Saat kita ditanya, pedulikah kita akan nasib mereka? Mungkin kalimat yang terucapkan adalah, “Peduli sih peduli, Mas. Tapi, boro-boro ngurusin orang lain, ngurusin diri sendiri aja sudah susah.” Sistem tata sosial dan agama yang berlaku di Indonesia selalu menekankan kepada kita untuk memperhatikan sesama dan menolongnya dalam kesusahan. Terus, masih berlakukah semua tata nilai tersebut di masyarakat kita? Berikut kutipan sebuah tulisan yang saya temukan di Internet.

Gotong-royong yang dimiliki bangsa ini hanyalah gotong-royong yang bersifat aman dan menguntungkan bersama. Sementara gotong-royong yang “berdarah-darah” untuk menolak penindasan adalah sesuatu yang tabu. Gotong-royong yang dimiliki bangsa ini adalah gotong-royong yang harus mempunyai feed back, mari kita bersama bergotong-royong mengadakan kenduri, agar kelak saat kita punya hajat maka orang lain pun akan membantu kita. Mari kita bergotong-royong membuat pengairan sawah, agar sawah kita pun dapat diairi. Mari kita bergotong-royong membangun balai desa, agar nanti kita juga dapat nonton teve di sana.
Buat apa kita bersama-sama mengentaskan orang-orang miskin, nanti mereka malah menjadi saingan dagang kita. Buat apa kita sibuk-sibuk mengurusi orang lain yang tanahnya diambil paksa oleh penguasa, yang penting kita selamat, kalau ikut-ikutan nanti malah kena getahnya. Buat apa ikut-ikutan memprotes kebijakan sekolah, nanti malah dicap anak nakal dan dapat nilai jelek. Buat apa ikut-ikutan demo, nanti malah dipentung polisi dan ditahan, toh demo juga tidak selalu didengar, lagipula kebijakan yang diprotes itu kan tidak ada sangkut-pautnya dengan kita.

Benar atau tidaknya isi tulisan tersebut, mari kita renungkan bersama.

Maka dari itu dalam konteks perayaan 17 Agustus-an tiap tahunnya, saya selalu membatin, “Alhamdulillah kita merdeka. Tapi, kok rasanya kita belum merdeka ya? Sekarang yang jajah kita bukanlah Jepang atau Belanda, tapi bangsa kita sendiri. Hmmm…”

3 thoughts on “63 tahun

  1. Dijajah oleh Nafsu Anak Bangsa Sendiri. Nafsu buat memperkaya diri, nafsu buat membesarkan golongannya sendiri…

Comments are closed.