Nasi Bukhari

Alhamdulillah, hari ini sudah hari ketujuhbelas kita berpuasa. Tak terasa sebentar lagi lebaran pun tiba. Hmm.. apa ya kira-kira yang akan saya persiapkan dalam menyambut hari kemenangan itu? *berpikir dengn seriusnya* Sepertinya, yang jelas dan yang pasti harus dipersiapkan adalah kesehatan jasmani dan rohani. Kan tidak lucu bila saatnya semua orang bersuka cita, saya malah harus berbaring di rumah hehe.. Bisa-bisa rencana makan ketupat dan ayam opor buatan ibu-ibu buyar semua..Padahal makanan-makanan seperti itulah yang paling saya harapkan bila lebaran datang.. (“,) Memang ada benarnya juga, kesehatan adalah satu hal yang mesti dijaga dengan baik mengingat beberapa waktu belakangan ini cuacanya sangat tidak bersahabat. Terkadang hujan, terkadang pula tidak. Belum lagi masalah dinginnya. Hampir setiap hari, dapat diamati dan dirasakan, suhu udara di Rotterdam berkisar antara 10 – 15 C yang mana akan menjadi lebih rendah lagi bila malam menjelang. Brrr… *dingin*

Hari Sabtu minggu lalu dapat dikatakan merupakan hari bersejarah dalam karir memasak saya. Kok bisa begitu? Apa yang membuatnya begitu istimewa sehingga dikatakan sebagai hari yang bersejarah? Mau tahu ceritanya? Baiklah ceritanya seperti ini.

Dua hari sebelumnya saya tidak menduga hal ini akan terjadi. Tiba-tiba Pak Sofjan, ketua pengajian ISR, mendekati saya sembari berbisik, “Ton, kamu bisa bantu Pak Zul masak nasi bukhari* nggak Sabtu ini untuk makanan buka puasa kita? Kalau bisa dan mau, nanti akan saya beritahu bagaimana cara memasaknya. Pak Zul akan siapkan semua kebutuhan untuk masak nasinya, saya akan sediakan daging, sementara kamu bantu Pak Zul masak. Bagaimana?” Tanpa ragu-ragu, saya pun menjawab, “Wah, saya mau sekali, Pak” Kebetulan kata hati saya ketika itu. Terus-terang sudah lama juga saya ingin tahu bagaimana memasak nasi bukhari tersebut. Selama ini saya hanya tahu memakannya saja hehe.. Pernah sekali dua kali saya bantu wak-wak* di Palembang memasak nasi yang sama sewaktu liburan di Indonesia beberapa waktu yang lalu, tapi anehnya saya tidak pernah hafal bumbu-bumbunya. Waktu itu, tugas saya adalah mengupas dan memotong bawang merah, bawang putih sekaligus menguleknya. Setelah itu, saya tidak pernah tahu lagi bumbu-bumbu apa lagi yang harus digunakan. Yang saya tahu, nasi jenis ini akan menggunakan minyak samin, daging kambing dan berbagai jenis bumbu. Inilah yang menyebabkan saya tidak menolak tawaran dari Pak Sofjan tadi. πŸ™‚ Boleh dikatakan, saya sangat suka makan nasi bukhari ini. Sekali makan bisa tambah dua tiga kali hehe.. Tapi harus ingat juga, kalau berlebihan efeknya akan sangat tidak baik bagi kesehatan. Bisa ‘berat’ euy!

Nah, hari H-nya pun tiba, setelah membantu mengantarkan komputer hasil sumbangan Djono untuk mushalla, kegiatan masak-masak segera dimulai. Pak Zul rupanya sudah tiba duluan di sana. Beliau asyik merebus daging-daging yang akan dipergunakan nantinya. Dengan berbekal resep arahan Pak Sofjan dan petunjuk dari Pak Zul, saya mulai mengupas dan memotong-motong bawang, dan beberapa bahan lainnya sehingga terkumpul semua. Oleh karena resep ini adalah resep turunan, jadi mohon maaf ya pembaca, saya tidak bisa memberitahukannya melalui jurnal ini. Soalnya saya sudah berjajni kepada beliau untuk tidak menceritakannya kepada orang lain. Janji adalah janji dan harus dipegang dengan baik. Setelah semua bumbu lengkap dan kita tumis sampai harum di sebuah panci yang besar sekali, daging-daging yang telah direbus, kita masukkan ke dalam tumisan bumbu tadi. Sampai antara tumisan dan daging menyatu dan dari daging keluar minyak. Baru setelah itu kita masukkan berasnya sedikit demi sedikit sampai menutup daging. Jangan lupa perhatikan juga kadar airnya, jangan terlalu banyak dan jangan pula terlalu sedikit. Kalau bisa, pakailah beras Basmati, boleh lebih enak lagi nasi bukhari-nya. Setelah semuanya tercampur merata, kita diamkan dengan sekali-sekali diaduk supaya tidak gosong sampai matang. Kalau dihitung-hitung ada sekitar
4 jam kita disibukkan dengan acara memasak nasi bukhari ini. Alhamdulillah nasi bukhari-nya jadi juga, walau sedikit lembek karena kebanyakan air hehe… Akhir cerita, semua orang puas, perut jadi kenyang, saya dapat ilmu masak baru, malah setelah pengajian dan shalat tarawih acara makan-makannya dilanjutkan lagi sampai malam. Sekalian sahur katanya.. πŸ™‚

Tidak tahulah, mungkin sudah menjadi tradisi di pengajian ISR, bila Ramadhan datang semua makanan-makan yang aneh pada bermunculan. Kebetulan guru-guru kita, Pak Sofjan, Pak Hamdi dan Pak Zul semuanya tamatan Timur Tengah dan pintar-pintar masak lagi. Bila mereka punya waktu, mereka pasti akan menyediakan masakan khas Timur Tengah kepada kita, jamaahnya. Pak Sofjan terkenal dengan harira*-nya, Pak Hamdi terkenal dengan ful*-nya dan Pak Zul dengan ghohwa-nya. Belum lagi bila teh nakna* dihidangkan, wah rasanya hidup ini lengkap sudah! Tentunya selain masakan Timur Tengah, para ibu-ibu juga tidak ketinggalan dengan spesialisasinya masing-masing. Sebagai contoh, Sabtu kemarin ibu Nunung masak makanan khas Pakistan, roti dengan kari daging. Kebetulan dia menikah dengan seorang Belanda, keturunan Pakistan Suriname, jadi terkadang makanan yang dibuatnya ada bau-bau Pakistannya hehe..
Kita, terutama saya, tentunya senang-senang saja, bisa makan enak. Bisa-bisa, puasa bukannya untuk menurunkan berat badan, malah naik lagi.. Wah, bahaya kalau begitu.. 😦 Harus diet nih setelah puasa…

Hari ini di mushalla diadakan acara buka puasa bersama ICMI Orsat Belanda dan Orwil Eropa. Alhamdulillah banyak yang datang. Sekali lagi lidah kita dimanjakan dengan makanan khas Timur Tengah. Kali ini Pak Sofjan langsung yang turun tangan masak nasi bukhari dan harira-nya, sementara Pak Surya menyediakan ful dan salada. Tak ketinggalan Pak Zul dengan teh arab-nya.. Alhamdulillah tak henti-hentinya hati ini bersyukur kepada Allah, karena dapat menikmati Ramadhan tahun ini dengan segala sesuatunya.
Dengar punya dengar, Sabtu depan saya dan Pak Zul akan masak nasi bukhari lagi.. Wah..wah.. bisa-bisa nanti pulang ke Indonesia malah buka restoran sendiri hehe.. Amin.

Alhamdulillah shalat tarawih masih dapat dilakukan secara berjamaah di mushalla. Sehari saja tidak ke sana, rasanya hati ini kurang enak. Terpaut sudah dan sepertinya akan terus terpaut. Bila saya berada di mushalla itu, saya merasa seperti di rumah sendiri. Begitu nyaman dan tenang, apalagi dihadiri oleh orang-orang yang kita kenal. Hidup berjamaah itu terasa indah. Sungguh merugi orang-orang tidak sempat merasakan nikmatnya hidup berjamaah. Dengan berjamaah, banyak yang dapat kita raih. Contoh nyatanya adalah ketika pengajian ISR berusaha membeli gedung baru untuk mushalla yang kita tempat saat ini. Berkat usaha bersamalah, akhirnya gedung itu terbeli juga. Alhamdulillah.

Marilah kita penuhi hari-hari terakhir Ramadhan ini dengan ibadah-ibadah. Semoga kita semua menjadi orang yang bertaqwa. Amin.

Catatan:
nasi bukhari = nasi briyani, nasi kebuli
wak = tante, bibi
harira = sop kacang
ful = bubur kacang, enak dimakan dengan roti.
ghohwa = kopi arab, sangat keras baik rasa maupun baunya.

Advertisements