Curhat hari ini..

Sebenarnya saya tidak tahu harus memberi judul apa untuk jurnal kali ini. Ya sudah daripada tidak ada judul sama sekali, akhirnya jurnal hari ini saya beri judul ‘curhatku hari ini..’ Garing sekali ya.. Awas lho jangan sampai ketawa bila membacanya hihihi..

Hari ini saya banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Apalagi ditunjang dengan cuaca yang sangat bersahabat, rasanya akan sangat disayangkan bila terus-menerus menghabiskan waktu berdiam diri di rumah seperti yang saya lakukan beberapa hari belakangan ini. Lumayanlah, paling tidak dapat menghilangkan rasa jenuh dan memperoleh semangat baru untuk melanjutkan aktivitas-aktivitas yang telah direncanakan sebelumnya.

Banyak sekali ide dan rencana yang ada di pikiran ini, tapi saya tidak yakin apakah semua ide tersebut dapat terealisasi dengan baik. Orang bijak selalu berkata, “Semua itu akan bergantung kepada bagaimana seseorang mengelola waktu dan semua sumber yang ada pada dirinya.” Itu memang benar. Nah, yang menjadi persoalannya sekarang adalah saya itu orangnya tidak suka diatur dan bisa mengatur, apalagi bila berhubungan dengan waktu.😦 Sudah berapa kali saya coba untuk menjadi seorang yang ‘teratur’, tapi tetap saja tidak bisa. Ada saja yang menghalangi saya di tengah jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Sepertinya saya harus punya komitmen yang lebih kuat, mungkin setelah itu baru berhasil. Tapi bagaimana caranya memupuk komitmen yang dimaksud? Ada ide? *bingung*
Ah, sudahlah.. kita lihat saja nanti bagaimana jadinya..

Ganti ke topik yang lain..
Peringatan 17 Agustus-an di Belanda tidaklah semeriah tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini adalah tahun penuh kesederhanaan. Kira-kira demikianlah yang dapat disimpulkan dari acara-acara yang diadakan. Selain itu hubungan antara KBRI dan masyarakat di sini juga kurang begitu harmonis dan terkesan menjauh. Tidak tahulah, semenjak dubes yang baru ini ‘berkuasa’, semuanya menjadi lain. Dulu setiap Jumat selalu diadakan shalat Jumat di KBRI, sekarang tidak lagi. Alasannya, takut akan ancaman terorisme dan memberdayagunakan masjid yang sudah ada. Belum lagi setiap kali ada ormas yang mendatangi KBRI untuk memohon bantuan baik berupa uang maupun fasilitas lainnya, jawabannya selalu sama, “maaf, KBRI tidak punya alokasi dana untuk itu” atau “maaf, aula ini sudah ada yang pesan” dan berbagai alasan lainnya yang dibuat-buat. Buktinya ada sekelompok orang yang dapat memperoleh semua fasilitas tersebut dengan gampang. Tidak adil kan? Ah, di mana-mana KKN memang tidak dapat dipisahkan dari birokrasi, semuanya sama saja, entah itu di dalam maupun di luar negeri. Kapan ya kita bisa lepas dari lingkaran setan yang tidak ada ujung pangkalnya ini? Time will tell..

Alhamdulillah, sejak minggu yang lalu pengajian Marconiplein sudah dapat menempati mushalla yang baru. Tak terkira senangnya hati ini ketika saya pertama kali menginjakkan kedua kaki ini di sana, setelah mushalla itu berhasil dibeli. Tapi rasa senang itu lalu berubah seketika ketika mengingat betapa besarnya tanggung jawab yang harus diemban di masa-masa yang akan datang. Mushalla ini diharapkan dapat menjadi sebuah pusat kajian dan kebudayaan Islam di Rotterdam yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat di sekitar. Terbayang sudah betapa besarnya tantangan yang akan dihadapi, terlebih lagi di tengah situasi saat ini. Di mana-mana orang Islam selalu dipojokkan dan dijadikan kambing hitam. Bahkan terkadang dipersulit. Tapi sudahlah tidak ada gunanya berkeluh kesah. Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuan yang dia miliki. Dan saya percaya itu. Yang penting sekarang, kita jalani saja dulu perlahan-lahan sambil tersu berbenah diri. Hei, siapa tahu dua tiga tahun lagi cita-cita mulia ini dapat tercapai. Wallahu a’lam.

Sebagai penutup dari ‘curhat’ saya hari ini, di bawah ini saya tampilkan beberapa fakta lucu sekitar proklamasi kemerdekaan dan para pendiri negara kita yang saya peroleh dari sebuah mailing list. Boleh dipercaya
atau tidak, tapi jangan sampai hal ini mengganggu/mempengaruhi semangat patriotisme/nasionalisme kita terhadap bangsa kita. Sekali merdeka tetap merdeka!

> Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia
> disebut sebagai revolusi dari kamar tidur? Coba simak
> ceritanya. Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata
> Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan
> Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala
> malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat
> lelah setelah begadang bersama para sahabatnya
> menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana
> Maeda.
> “Pating greges”, keluh Bung Karno setelah
> dibangunkan de Soeharto, dokter kesayangannya.
> Kemudian darahnya dialiri chinineurethan
> intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia
> tidur lagi.
> Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian
> rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.
> Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan
> kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.
> “Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian
> telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir
> patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu
> kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah
> Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bungk Karno
> kembali ke kamar tidurnya. masih meriang. Tapi sebuah
> revolusi telah dimulai…
>
> **********************
> Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
> ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps
> musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang
> bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar,
> serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara.
> Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah
> upacara sekaral yang dinanti-nanti selama lebih dari
> tiga ratus tahun!
>
> ***********************
> Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera
> resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera
> sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei
> tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!
>
> ***********************
> Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru
> memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar
> “orang Indonesia asli”. Karena semua menteri
> sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti,
> mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau
> pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik
> Indonesia memang belum ada saat itu.
> “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi
> menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga,
> Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri
> Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V
> (1988-1993).
>
> ***********************
> Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan
> adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia.
> Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di
> pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah!
> Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM
> Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan
> Hassanal Bolkiah (Brunei).
>
> ************************
> Hubungan antara revolusi Indonesia dan
> Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu
> diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa
> Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut
> “hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel
> Hollywood.
> Bungk Karo saat itu mengundang aktris
> legendaris, Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam
> di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya
> Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25
> tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari
> pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah
> kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu,
> Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President”
> atau “Your Excellency”, tetapi dengan “Prince
> Soekarno!”
>
> *************************
> Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan
> Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, “Tahun Vivere
> Perilocoso” (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan
> judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film
> tersebut menceritakan
pegalaman seorang wartawan asing
> di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang
> dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk
> kategori film asing!
>
> *************************
> Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan
> Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan
> didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah
> dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah
> historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh
> wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu
> di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17
> Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik
> oleh Sajuti Melik.
> Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft
> tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah
> menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
>
> ************************
>
> Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli
> 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar
> pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani
> pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa,
> Bung Karno justru tidak membicarakan strategis
> perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang
> dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas!
> “Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung
> Karno pertama kali tentang jas double breast yang
> dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang
> menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh
> nasionalis.
>
> *************************
>
> Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding
> fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat
> pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13
> Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman
> Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung
> Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor
> ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang
> air kecil, tetapi tak ada tempat.
> Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk
> hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang
> kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno
> melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang
> sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua
> penumpang. Byuuur…
>
> ***************************
> Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi
> 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan
> oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin
> merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa
> penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang
> merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada
> mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah
> diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan
> perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah
> besar.
> Padahal negatif film itu ditanam di bawah
> sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja.
> Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan
> dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai
> sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada
> Jepang?
>
> ****************************
> Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi
> proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno
> memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata
> kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun
> dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor
> dengan nama “Abdullah, co-pilot”.
> Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang
> dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang
> kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji
> Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh
> Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah
> kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Dandhi mengetahui
> perjuangan Hatta.
> Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh
> Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa
> reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena
> tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar !”
> ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru
>
> ****************************
> Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran
> Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal
> kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal
> itu, pencipta lagu kebangsaan
“Indonesia Raya”, WR
> Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa
> Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894)
> meninggal dunia.
>
> ***************************
> Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan
> bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama
> dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari
> kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik
> Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17
> Agustus 1960.
>
> ****************************
> Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan
> Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta
> berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk
> mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini,
> tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta.
> Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk
> sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai
> 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai
> nama mereka.
>
> ****************************
> Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung
> Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat
> Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986
> Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi
> kepada mereka.
>
> ****************************
> Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu
> Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat
> setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
> rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam
> Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua
> yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani
> teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya.
> Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang
> hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon
> proklamator yang gagal : Achmad Soebardjo, Soekarni
> dan Sajuti Melik.
> “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak
> mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.
>
> ****************************
> Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata
> tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga
> seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri
> Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan
> satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda.
> Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam
> mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang
> tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru.
> Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi
> di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur.
> Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah
> pancuran air terjun.
>
> ****************************
> Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu
> kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat.
> Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota,
> yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan
> Bukittinggi (1948-1949).
>
> ****************************
> Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia
> Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak prnah
> menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak
> pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan
> sekalipun!
>
> ****************************
>
> Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial
> bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak,
> pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De
> Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang
> orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan
> Jepang.
> Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang
> menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan
> Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh
> pihak Sekutu.
> Paa 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang
> kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5
> dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya
> menyusul peristiwa G30S/PKI.
>
> *****************************
> Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih
> sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah
> kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan
> memanggil tukang sate !!!
> Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang,
> setelah terpilih secara aklam
asi sebagai presiden.
> Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate
> bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas
> kaki).
> “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah
> Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat
> sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah
> pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas
> pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa
> lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru
> berusia satu hari.
>
> *****************************
> Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung
> Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda
> pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah
> dilupakan oleh Bun Karno.
> Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda
> memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang
> ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan
> atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota
> Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.
>
> ******************************
> Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI
> pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki
> prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada yang
> menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich,
> Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu
> dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian,
> statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

4 thoughts on “Curhat hari ini..

  1. Sangat senang membaca artikel panjang dan lucu, semoga bangsa ini bisa melahirkan tokoh tokoh yang besar dan benar bukan besar kayak raksasa tapi besar di mata dunia dan kyantonius aku sebagai orang katolik nama anda kok seperti orang nasrani, sejarahnya gimana ?

  2. mengenai nama, saya sendiri juga sedikit bingung kenapa bisa diberi nama demikian.🙂 tapi walaupun demikian, saya dilahirkan dan besar dalam pendidikan Islam oleh keluarga.

  3. Saya banggam artikel yang saya tulis 9 tahun lalu di Suara Merdeka, bertebaran di dunia maya.
    Terima kasih Anda membuat saya bangga. kalau sempat saya akan kasih artikel aslinya.

    Iwan Satyanegara

  4. Saya termasuk orang yang anti denger curhat tapi curhat kali ini beda … ada sesuatu yang khas dari anak – anak Indonesia yang jauh disana. BTW Kemas Yunus Antonius itu salah satu penulis mengenai Content Management System di IlmuKomputer.Com dimana saya masukan menjadi salah satu referensi untuk bahan skripsi saya di UI even saya bukan orang komputer. Thanks ya bahasan kamu cukup menyelamatkan saya dari susahnya cari teori mengenai CMS./Best regards nina

Comments are closed.