Hmm..

Hmmm… ku tak tahu harus memberi judul apa dalam jurnal kali ini 😦 Terlalu banyak sudah hal-hal yang ku pikirkan selama satu minggu ini. Mulai dari tugas-tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk, beban pekerjaan, dan sampai kepada hal-hal lainnya yang tidak mungkin ku sebutkan satu per satu. Sehingga sebuah ide untuk judul saja rasanya sukar untuk diekspresikan. Ku tak tahu pula kenapa beberapa waktu belakangan ini perasaan bosan menghinggapi diriku. Bosan terhadap berbagai rutinitas yang ku hadapi di sini. Sepertinya ku butuh suatu hal baru di mana ku dapat melarikan diri dari kungkungan rasa bosan ini. Ah, pikiranku melayang entah ke mana…

Tak terasa sudah lebih dari seminggu lamanya jurnal ini tidak diisi. Selain sibuk dengan berbagai aktivitas kehidupan yang sifatnya rutinitas, sebenarnya tidak banyak hal-hal baru yang terjadi dalam hidup ini. Bosan!
Ku sadari memang cepat bosan terhadap sesuatu adalah satu tabiat yang kurang baik, tapi entah mengapa hal yang satu ini sukar ku hilangkan. Aku sudah terbiasa demikian. Bilaku merasa, ku telah mencapai satu titik di mana ku telah puas dengan apa yang ku peroleh, ku kan segera beralih ke hal lain yang baru. Demikian seterusnya sampai ku tak tahu lagi apa yang harus ku perbuat. Oh, akankah ini terus berlangsung? Ku capek…

Sudahlah, ku tahu ku tak boleh mengeluh, oleh karena itu kan ku lanjutkan jurnal ini dengan bercerita tentang kegiatan-kegiatan yang ku lakukan kemarin.

Kemarin, dalam rangka mengumpulkan dana pembelian mushalla baru pengajian ISR Marconiplein, aku dan beberapa orang jamaah lainnya mengunjungi Masjid An-Nasr, salah satu masjid terbesar di Rotterdam, meminta sumbangan dan sadaqah dari para jamaah yang hadir shalat Jumat di sana. Dengan berbekal sebuah kain masing-masingnya, setiap orang berdiri di depan pintu masuk dan keluar sambil merentangkan kain yang ada di kedua tangan dan meneriakkan kalimat-kalimat yang mendorong orang untuk bersadaqah. Sebelumnya dalam khutbah Jumat yang disampaikan Sheikh Khalil El Moumni, beliau juga memberitahukan kepada para jamaah yang hadir untuk meringankan tangannya membantu usaha pembelian mushalla baru untuk komunitas Islam Indonesia di Rotterdam. Alhamdulillah, himbauan Sheikh Khalil memperoleh sambutan yang baik sehingga dalam jangka waktu tak kurang dari 20 menit lamanya, terkumpulah uang sadaqah sebesar 4400 euro. Alhamdulillah! Tak kunjung hentinya di hati ini, aku dan teman-teman bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada para jamaah Masjid An-Nasr atas nikmat ini. Semoga Allah membalas budi baik mereka dengan pahala yang setimpal. Amin.
Insya Allah hal yang sama akan kami lakukan di masjid-masjid yang lainnya sehingga dalam waktu dekat ini, pengajian ISR Marconiplein telah dapat menempati mushala barunya.

Sehabis aktivitas pengumpulan dana pembelian itu, ku segera pulang ke rumah, karena pada malam harinya ada pengajian PPMR di kamarnya Oni. Sampai di rumah ku berjumpa dengan Dini. Kita sempat berbincang-bincang sebentar mengenai pengajian sampai akhirnya dia harus mengundurkan diri karena ada janji untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya di kampus. Tak lama kemudian, Dini pun menelponku dan mengajak untuk pergi bareng ke pengajian. Pada awalnya dia ingin naik tram saja, karena khawatir malam itu akan turun hujan. Tapi setelah ku bujuk-bujuk, akhirnya dia setuju untuk naik sepeda ke sananya. Walhasil, kita pun pergi ke pengajian dengan bersepada ria. Sesampainya di sana, sudah banyak teman-teman lain yang datang lebih awal. Alhamdulillah, pengajian kemarin berjalan dengan lancar. Pas, sewaktu akan pulang ke rumah, kekhawatiran Dini terjadi juga, hujan turun! Dengan gayanya yang khas, dia menyalahkan diriku karena tidak mendengarkan ajakannya. Ku hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala 🙂 Dini, Dini… hatiku membatin.
Bukan aku dan Dini saja yang terjebak, yang lain juga begitu. Semua sepakat untuk menunggu sebentar sampai hujan mereda dan melanjutkan obrolan yang sempat tertunda sebelumnya.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi. Wah harus pulang ini! Akhirnya, walau masih hujan, kita pamit semua dan segera menuju rumah masing-masing. Aku dan Dini kasihan melihat Andry dan Henny harus berjalan kaki, karena tidak ada kendaraan umum lagi dan mengajak mereka untuk boncengan sepeda. Andry membonceng Dini. sedangkan aku membonceng Henny. Di tengah perjalanan, kita sempat dihentikan polisi. Mereka memeriksa semua bawaan dan menggeledah tubuh kita satu per satu. Sewaktu ditanya ada apa, mereka hanya menjawab, pemeriksaan biasa terhadap senjata tajam dan obat-obatan. Untung tidak ada apa-apanya sehingga perjalanan pun dapat dilanjutkan. Malam itu lumayan dingin, tapi kita tetap dengan semangatnya mengayuh sepeda. Ku merasa bertanggung jawab untuk mengantarkan Henny sampai ke rumahnyan dengan selamat. Alhamdulillah, apa yang kuharapkan terlaksana juga, Henny dan Andry sampai di rumahnya dengan baik. Selanjutnya, aku dan Dini meneruskan perjalanan dan tepat pukul 01.30 kita pun sampai di rumah. Setelah menyimpan sepeda masing-masing, kita pun berpamitan di lift. Yah, aku dan Dini tinggal di satu gedung yang sama 🙂 Dini adalah seniorku. Anaknya baik sekali dan ramah, walau terkadang kekanak-kanakan. Satu hal yang membuat ku selalu tertawa dan senang. 🙂 Dia telah ku anggap sebagai seorang saudara, seorang kakak perempuan.

Begitulah, suasana malam Sabtu ku. Hari ini, aku akan mengikuti pengajian di ISR Marconiplein. Keesokan harinya, ke Brussel, Belgia. Ada pertemuan antara Islamic Commerce dan CEREI di sana, sekaligus memberikan sedikit konsultasi kepada beberapa orang local IT’ers. Seninnya kuliah kembali seperti biasanya.

(sebuah jurnal yang ditulis dalam gaya bahasa ‘aku’)

Advertisements