Liburan musim dingin

Yap! You hear me. Liburan musim dingin sudah tiba. Resminya mulai hari ini sampai dua minggu yang akan datang. Rencananya selama liburan kali ini, saya dan beberapa orang teman lainnya akan pergi berlibur ke beberapa tempat di luar Belanda, tepatnya ke beberapa kota di Jerman, Perancis dan Swiss. Tidak lama kok, hanya 5 hari saja. Kita ke sananya dengan menggunakan mobil sewaan dan di sana nantinya akan menginap di penginapan-penginapan kecil dan memasak sendiri. Lumayan kan, dengan demikian bisa menghemat biaya he..he..

Tapi setelah pulang dari liburan nanti, saya harus mulai belajar lagi. Karena minggu depannya ada dua ujian yang harus ditempuh. Jadi, mesti pandai-pandai membagi waktu supaya tidak keteteran (“,).

Oh ya, mau tahu nggak apa-apa aja yang saya lakukan di akhir pekan kemarin? Sebenarnya tidak banyak, tapi walaupun demikian selama akhir pekan kemarin saya merasa senang. Senang oleh karena berbagai hal. Pada hari Sabtu nya, saya diundang oleh seorang kenalan di pengajian untuk makan malam di rumahnya. Selain saya, dia sekeluarga juga mengundang seluruh anggota pengajian ISR Marconiplein untuk datang. Oleh karena besar tempatnya tidak berbanding lurus dengan jumlah orang yang hadir, terpaksalah ada sebagian yang mau tidak mau harus duduk di lantai ataupun berdiri. Makanan yang disajikan malam itu pun luar biasa enak. Bayangkan ada sate dan soto padang! Dua makanan favorit saya. Sudah lama juga saya nggak makan dua makanan tersebut. Terasa seperti di kampung halaman saja. Sekedar informasi, hampir separuh dari hidup saya, saya habiskan di daerah Sumatera Barat, terutama di kota Bukittinggi dan Padang. Jadi, secara tidak langsung, saya juga sudah terbiasa makan makanan asli daerah sana dan bahkan saya telah menganggap Sumatera Barat adalah kampung halaman saya yang kedua setelah Palembang. I feel home there.
Kembali ke acara makan malam tadi, setelah puas menikmati semua sajian yang ada, it’s time to talk with the others. Di sana, saya ketemu seorang cewek yang kebetulan juga berasal dari Padang, tapi lahir dan besar di Palembang. What a coincidence! Karena, situasinya berbanding balik 100% dengan saya. Saya lahir di Palembang tapi besar di daerah Sumatera Barat. Kami pun hanyut dalam percakapan yang boleh dikatakan sangat menarik. Tapi waktu jualah yang membatasinya, tak lama kemudian saya pun harus pulang ke rumah dan dia pun juga begitu. Tapi sebelum pulang, saya sempat minta nomor telponnya. Siapa tahu, she’s the one he..he.. ^.^

Keesokan harinya, saya sudah ada janji dengan Pak Hamdi untuk pergi sama-sama ke Leiden. Kebetulan di sana ada acara yang menghadirkan WS Rendra, si Burung Merak, penyair dan budayawan, sebagai pembicaranya. Selain saya, ada seorang teman lain yang ikut serta. Perjalanan ke Leiden memakan waktu sekitar setengah jam-an saja, tapi tahu nggak apa yang membuat kita lama sampai di tempat tujuan? Kita tidak tahu tempatnya persis di mana, sehingga hampir setengah jam-an pula waktu yang diperlukan untuk mencarinya. Alhamdulillah berkat kesabaran, sampai juga 🙂 Pada saat itu di Leiden hujan rintik-rintik. Pak Hamdi kemudian meneruskan perjalanannya ke Amsterdam, karena sudah ada janji sebelumnya di sana. Sesampainya di tempat di mana acara diadakan, WS Rendra tengah memaparkan opininya tentang apa-apa saja yang terjadi di Indonesia saat ini. Lumayan menarik, walaupun saya tidak menerima 100% apa-apa saja yang disampaikannya. Banyak yang harus disesuaikan dengan realita yang ada. Yang hadir pun relatif banyak, sebagian besar adalah mahasiswa-mahasiswa yang tengah belajar di Leiden. Hampir dua jam lamanya dia berbicara dan acaranya kemudian ditutup. Diakhiri dengan foto-foto bersama.

Sungguh suatu kebetulan lagi, di sana saya bisa berjumpa lagi dengan si dia. Sambil berjalan menuju tempat seorang teman di Leiden, kita pun berbincang-bincang tentang berbagai hal. Sampai di sana, kita makan malam, shalat maghrib dan melanjutkan obrolan sampai Pak Hamdi datang untuk menjemput saya da
n teman saya kembali ke Rotterdam.

Dalam perjalanan kembali itu, kita sempat singgah di Den Haag, mengunjungi sebuah masjid dan shalat Isya’ di sana. Sesudahnya, kita pun makan ikan goreng di Scheveningen. Wah nikmatnya! Apalagi ketika itu udara dingin sekali. Brr… Btw, singkat kata, saya sampai di rumah. Lalu mencuci pakaian yang hendak dibawa liburan besok dan sekalian membalas beberapa email yang masuk sebelum tidur. Tak terasa waktu telah menunjuk pukul 2.30, dengan perasaan puas, hari itu pun saya tutup dengan harapan semoga di hari-hari lainnya bisa seperti ini lagi (“,)

Advertisements